Jangan Baper, Jaga Hati! | Ustadz Fauzie Nur Zaman, S.Pd.Gr. | Majalah Al Akhbar September 2026 | 082140888638

Firanda Syafiq Khalid Yazid Jawas Amir Abdat Utsaimin Bin Baz Albani Fauzan Riyadh Bajrey Oemar Mita Aa Gym Das’ad Latif Subhan Bawazier Nuzul Dzikry Abduh Tuasikal Erwandi Mubarok Bamualim Badrusalam Aris Munandar Sufyan Fuad


Sahabat Al Akhbar …. Ada orang yang hidupnya lelah bukan karena terlalu banyak pekerjaan, tetapi karena terlalu banyak memikirkan perkataan orang. Tidak dibalas senyum, merasa tidak disukai. Pesan belum dibalas, merasa diabaikan. Ditegur sedikit, merasa direndahkan. Mendengar orang tertawa, merasa sedang ditertawakan. Melihat beberapa orang berkumpul tanpa dirinya, langsung berpikir bahwa dirinya sedang dijauhi. Padahal, belum tentu semuanya seperti yang ada dalam pikiran kita. Kadang masalahnya bukan pada ucapan orang lain, tetapi pada cara kita menafsirkan ucapan tersebut. Kita membuat kesimpulan sendiri, kemudian kita sendiri yang terluka dengan kesimpulan itu. Akhirnya hati gelisah, pikiran penuh, hubungan dengan orang lain menjadi renggang, bahkan sesuatu yang sebenarnya sederhana berubah menjadi masalah besar. Karena itu, seorang muslim perlu belajar untuk tidak terlalu cepat memasukkan segala sesuatu ke dalam hati.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Rasulullah juga bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Maka jangan terlalu cepat menyimpulkan maksud seseorang. Tidak semua diam berarti membenci. Tidak semua kritik berarti merendahkan. Tidak semua keterlambatan membalas pesan berarti mengabaikan. Tidak semua candaan adalah sindiran. Dan tidak semua pembicaraan yang kita dengar sedang membicarakan diri kita. Bisa jadi orang tersebut sedang sibuk. Bisa jadi dia sedang memiliki masalah. Bisa jadi dia lupa. Bisa jadi memang tidak ada maksud apa-apa. Bahkan bisa jadi, sebenarnya kita hanya terlalu sibuk membuat cerita sendiri di dalam kepala.

Di sinilah pentingnya husnuzh-zhann. Bukan berarti kita harus menjadi orang yang tidak peka terhadap keadaan. Bukan pula berarti kita membiarkan orang lain berbuat zalim kepada kita. Namun kita perlu membedakan antara fakta dan perasaan. Begitu pula ketika seseorang memberikan nasihat. Jangan sedikit-sedikit merasa tersinggung. Jangan setiap koreksi dianggap sebagai penghinaan. Rasulullah bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim)

Nasihat memang terkadang terasa pahit. Tetapi sesuatu yang pahit tidak selalu buruk. Obat yang pahit bisa menyembuhkan. Teguran yang terasa menyakitkan bisa menyelamatkan seseorang dari kesalahan yang lebih besar. Kadang yang terluka bukan harga diri kita, tetapi ego kita. Maka ketika seseorang mengingatkan kita, jangan langsung sibuk mencari alasan untuk membela diri. Cobalah bertanya, “Jangan-jangan memang ada yang perlu saya perbaiki?” Namun kalau kita benar-benar disakiti, Islam juga tidak mengajarkan kita menjadi orang yang penuh dendam. 

Sahabat Al Akhbar …. Menahan amarah bukan berarti lemah. Memaafkan bukan berarti kalah. Justru terkadang dibutuhkan kekuatan yang besar untuk tidak membalas ketika kita mampu membalas. Tentu, memaafkan bukan berarti membiarkan kezaliman terus terjadi. Jika ada hak yang dirampas, kita boleh mengambil hak dengan cara yang dibenarkan syariat. Jika ada kezaliman, kita boleh mencari keadilan. Tetapi jangan sampai urusan yang selesai bertahun-tahun lalu masih kita bawa setiap malam ke dalam pikiran.

Ada orang yang tubuhnya sudah berada di tempat lain, tetapi pikirannya masih tinggal di sebuah kejadian yang terjadi bertahun-tahun lalu. Ia masih mengingat siapa yang menyakitinya, apa yang dikatakan, kapan kejadiannya, dan bagaimana perasaannya saat itu. Setiap mengingatnya, hatinya kembali marah. Kalau seperti itu, siapa yang sebenarnya paling lelah? Orang yang menyakiti kita mungkin sudah lupa. Tetapi kita masih terus menghukum diri sendiri dengan mengingatnya. Maka belajarlah melepaskan. Tidak semua masalah harus mendapatkan penjelasan panjang. Tidak semua ucapan harus dibalas. Tidak semua kesalahpahaman harus diluruskan. Dan tidak semua orang harus kita yakinkan bahwa kita adalah orang baik. Sebab, tidak semua manusia harus menyukai kita.

Ini adalah kenyataan yang harus diterima dengan lapang dada. Kita tidak mungkin membuat semua orang ridha kepada kita. Hari ini seseorang memuji kita, besok mungkin dia mencela. Hari ini kita dianggap baik, besok mungkin kita dianggap buruk. Jika ketenangan hati kita bergantung pada penilaian manusia, kita akan menjadi manusia yang sangat mudah lelah.

Kalau Allah sudah cukup bagi kita, mengapa kita terlalu sibuk memikirkan apa kata manusia? Yang perlu kita pikirkan adalah: apakah Allah ridha kepada kita? Apakah ibadah kita benar? Apakah kita sudah menjaga lisan? Apakah kita sudah menunaikan kewajiban? Apakah kita sudah meninggalkan maksiat? Apakah kita sudah memperbaiki akhlak? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih penting daripada, “Kenapa dia tidak menyukai saya?”

Sahabat Al Akhbar …. Kita sering terlalu sibuk menjaga citra di hadapan manusia, tetapi lupa memperbaiki keadaan kita di hadapan Allah. Padahal manusia hanya melihat apa yang tampak. Sedangkan Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati. Maka jangan hidup hanya untuk mendapatkan pengakuan manusia.

Kalau ada yang salah paham, jelaskan jika memang perlu. Kalau ada yang mencela, jangan buru-buru membalas. Kalau ada yang menyakiti, jangan biarkan kebencian memenuhi hati. Kalau ada kritik yang benar, terimalah dengan lapang dada. Kalau ada nasihat yang baik, ambillah manfaatnya. Setelah itu, tenangkan hati dan lanjutkan hidup. Tidak semua hal harus dibawa ke hati. Ada hal-hal yang cukup kita jawab dengan diam. Ada yang cukup dengan senyuman. Ada yang cukup dengan memaafkan. Dan ada pula yang cukup kita serahkan kepada Allah.

Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا  أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ  وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)

Maka mengapa kita begitu sulit memaafkan kesalahan orang lain? Bukan berarti semua kesalahan harus dilupakan begitu saja. Tetapi setidaknya jangan biarkan kesalahan orang lain mengambil ketenangan yang seharusnya menjadi milik kita.

Sahabat Al Akhbar …. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan baper. Jangan setiap ucapan dijadikan luka. Jangan setiap kesalahan dijadikan dendam. Jangan setiap kritik dianggap penghinaan. Jangan setiap perbedaan dianggap permusuhan. Belajarlah menjadi orang yang lebih lapang. Tidak mudah tersinggung. Tidak mudah curiga. Tidak mudah marah. Tidak mudah membuat kesimpulan. Dan tidak mudah kehilangan ketenangan hanya karena perkataan manusia. Fokuslah memperbaiki diri, memperbanyak amal, menjaga hati, dan mencari ridha Allah.

Orang yang hari ini memuji kita akan pergi. Orang yang hari ini mencela kita juga akan pergi. Yang akan kita bawa adalah amal kita. Daripada terlalu sibuk bertanya, “Apa kata manusia tentang saya?”, lebih baik bertanya kepada diri sendiri: “Apa yang Allah nilai dari diri saya?” Jadi, kalau ada yang salah paham, jangan langsung baper. Kalau ada yang mencela, jangan buru-buru membalas.

Nahdlatul Ulama Muhammadiyah Habib Habaib Hubabah Syarifah Sayyid Nahdlatul Wathan Wahabi Hizbut Tahrir Ikhwanul Muslimin Jama’ah Tabligh DDII LDII Wahdah IKADI Mujahidin MUI Salaf Ghuraba Thaifah Manshurah Firqah Najiyah


Komentar