Islam dan Tantangan LGBT | Ustadz Fauzie Nur Zaman, S.Pd., Gr. | Majalah Al Akhbar Edisi Mei 2026 | 082140888638
Islam sebagai agama yang sempurna sebenarnya sudah memberikan panduan yang jelas dalam menjaga fitrah manusia, termasuk dalam urusan naluri dan hubungan antar lawan jenis. Fitrah ini mengarahkan manusia kepada hubungan yang benar, yaitu antara laki-laki dan perempuan dalam ikatan pernikahan. Namun di zaman sekarang, ketika arus informasi begitu bebas dan cepat, kita mulai melihat berbagai fenomena yang menjauh dari fitrah tersebut. Salah satunya adalah praktik LGBT yang semakin sering muncul dan mendapatkan ruang di tengah masyarakat. Karena itu, penting bagi kita sebagai Muslim untuk memahami persoalan ini dengan utuh, berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, bukan sekadar ikut arus opini.
Dalam Islam, konsep fitrah menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan kecenderungan yang lurus sesuai kehendak Allah ta’ala. Hal ini terlihat jelas dari bagaimana Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan, sebagai jalan untuk mendapatkan ketenangan dan melanjutkan kehidupan. Allah ta’ala berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya...” (QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa ketenangan itu Allah letakkan pada hubungan yang sesuai dengan fitrah, yaitu hubungan yang halal antara laki-laki dan perempuan.
Al-Qur’an juga sudah sejak lama menceritakan tentang penyimpangan ini sebagai pelajaran bagi kita. Kaum Nabi Luth dikenal melakukan hubungan sesama jenis secara terang-terangan, bahkan menolak peringatan dari nabi mereka sendiri. Allah ta’ala berfirman:
أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُم مِّنْ أَزْوَاجِكُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ
“Mengapa kamu mendatangi laki-laki di antara manusia, dan kamu tinggalkan perempuan yang diciptakan Tuhanmu untukmu? Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Asy-Syu’ara: 165–166)
Karena penolakan terhadap fitrah itu, mereka akhirnya mendapat azab yang sangat berat. Allah ta’ala berfirman:
فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا
“Maka Kami jadikan negeri itu terbalik...” (QS. Hud: 82)
Kisah ini menunjukkan bahwa perilaku tersebut bukan perkara ringan, tetapi termasuk dosa besar dalam pandangan Islam. Larangan ini juga ditegaskan dalam Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan bahasa yang sangat kuat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ
“Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.” (HR. Ahmad)
Pengulangan dalam hadis ini menunjukkan betapa seriusnya peringatan tersebut dalam Islam.
Sahabat Al Akhbar … Di zaman sekarang, tantangan itu terasa semakin nyata karena media sosial. Kita bisa dengan mudah menemukan konten di platform seperti TikTok, Instagram, dan lainnya yang menggambarkan hubungan sesama jenis seolah-olah sesuatu yang biasa, bahkan layak dirayakan. Ditambah lagi dengan berbagai kampanye dan tagar yang mendorong penerimaan atas nama kebebasan. Tanpa disadari, algoritma media sosial terus menampilkan konten serupa, sehingga perlahan membentuk cara pandang bahwa hal itu adalah sesuatu yang umum.
Kondisi ini tentu berpengaruh besar, terutama bagi generasi muda. Remaja yang sedang mencari jati diri cenderung lebih mudah tersentuh oleh konten yang emosional dan persuasif. Jika tidak dibekali dengan pemahaman agama yang kuat dan pendampingan yang baik, mereka bisa saja menyerap nilai-nilai yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Karena itu, persoalan ini bukan hanya soal moral, tapi juga soal pendidikan dan pembinaan generasi.
Di sinilah Islam mengajarkan keseimbangan. Kita harus tegas dalam memegang prinsip, tapi tetap lembut dalam memperlakukan manusia. Perbuatan yang menyimpang tetap tidak boleh dibenarkan, namun cara menyikapinya harus dengan hikmah, bukan dengan cacian. Allah ta’ala berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik…”(QS. An-Nahl: 125)
Artinya, dakwah itu bukan hanya soal benar atau salah, tapi juga soal bagaimana cara menyampaikannya. Yang tidak kalah penting, Islam tidak pernah menutup pintu taubat. Siapa pun, dengan dosa apa pun, selalu punya kesempatan untuk kembali. Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya…” (QS. Az-Zumar: 53)
Ini menjadi pengingat bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada dosa manusia.
Sahabat Al Akhbar …
Menjaga fitrah di tengah derasnya arus informasi memang bukan hal mudah. Tapi di situlah letak ujian kita hari ini. Dengan memahami dalil, menyadari bahaya normalisasi penyimpangan, dan tetap berdakwah dengan bijak, insya Allah kita bisa menjaga diri dan orang-orang di sekitar kita. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk tetap istiqomah di jalan-Nya, dan menjadi bagian dari orang-orang yang menghadirkan kebaikan di tengah zaman yang penuh tantangan ini.
Artikel ini dimuat di Majalah Al Akhbar edisi Mei 2026

Komentar
Posting Komentar