Senjata Seorang Mukmin | Ustadzah Fatimah Alattas, S.E. | Majalah Al Akhbar Edisi Mei 2026 | 082140888638

082140888638 Yayasan Al Akhbar Ar Refahiyah



Sebagai seorang Muslim, kita semua yakin bahwa segala sesuatu yang ada dalam kehidupan kita telah menjadi ketetapan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, masih ada pertanyaan, kalau semua sudah ditetapkan, untuk apa lagi kita berdoa dan berusaha? Dalam Islam, berdoa bukan hanya sebagai sebuah pilihan, tetapi keharusan. Berdoa adalah sebuah bentuk pengakuan akan ketidakberdayaan manusia dan kebutuhan manusia atas Tuhannya. Sering kali, doa dipandang sebatas ritual atau permintaan semata. Namun, jika kita menggali lebih dalam, esensi doa jauh melampaui itu. Doa adalah jembatan komunikasi spiritual antara seorang hamba dengan Sang Pencipta, sebuah ruang intim untuk mencurahkan isi hati, harapan, dan bahkan keluh kesah.

Doa memiliki banyak manfaat bagi manusia khususnya kaum Muslimin yang menyandarkan hidupnya sepenuhnya kepada Allah. Doa bagi umat Islam adalah jalan keselamatan, media atau wasilah untuk mencapai keinginan, sesuatu yang dituntut oleh orang-orang yang berpengetahuan, kendaraan orang-orang shalih, tempat berlindung bagi kaum yang terzalimi dan tertindas. Melalui doa, nikmat diturunkan dan melaluinya pula murka dihindarkan. Alangkah besar kebutuhan para hamba Allah akan doa, seorang muslim tidak akan pernah bisa lepas dari kebutuhan akan doa dalam setiap situasi dan kondisinya.

Doa memiliki keutamaan dan faedah yang tak terhitung, kedudukannya sebagai satu bentuk ibadah cukup menjadi bukti keutamaanya, bahkan ia adalah ibadah itu sendiri, sebagaimana yang sabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ
”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi).

Orang yang enggan berdoa adalah suatu bentuk kesombongan dan seolah meragukan kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman: “berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku(berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina.” [QS. Ghafir (40): 60].

Dengan berdoa kita bertawakal kepada-Nya, menyerahkan urusan hanya kepada-nya bukan kepada yang lain-Nya. Sebagaimana doa juga merupakan bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bentuk pemenuhan akan perintah-Nya. Doa juga merupakan senjata yang kuat yang digunakan seorang muslim dalam mencari kebaikan dan menolak kemudharratan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مْنَ فُتِحَ لَهُ مِنْكُمْ بَابُ الدُّعَاء، فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ ، وَمَا سُئِلَ اللَّهُ شَيْئًا يُعْطى أحبَّ إليه من أن يسأل العافية إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلُ ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ
“Barang siapa diantara kalian telah dibukakan baginya pintu doa, pasti dibukakan pula baginya pintu rahmat, dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’aladiminta sesuatu yang Dia berikan lebih Dia senangi dari pada diminta kekuatan, sesungguhnya doa itu bermanfaat baik terhadap apa yang terjadi maupun belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani).

Bagi para nabi, doa adalah senjata yang digunakan ketika menghadapi situasi-situasi sulit. Sebagaimana nabi Muhamad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang badar, ketika beliau melihat jumlah kaum musyrikin sebanyak seribu sedang pasukan Islam tiga ratus sembilan belas, beliau segera menghadap kiblat seraya mengangkat kedua tangannya berdoa:
اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ
“Ya Allah wujudkanlah untuk kami apa yang engkau janjikan, ya Allah berikanlah kepada kami apa yang engkau janjikan, ya Allah jika sekumpulan kaum muslimin ini binasa, maka tidak ada yang akan menyembah engkau di muka bumi ini.”
فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ وَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ كَفَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ فَإِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus melantunkan doa seraya membentangkan kedua tanganya menghadap kiblat hingga selempangnya jatuh, maka datanglah Abu Bakar mengambil selempang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meletakannya di atas pundaknya dan menjaganya dari belakang dan berkata: wahai nabi Allah, doa engkau kepada Tuhanmu sudah cukup, karena Dia pasti akan mewujudkan apa yang Dia janjikan untukmu.” (HR. Muslim)

Begitu pula Nabi Ayub Alaihissallam menjadikan doa sebagai senjata dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Beliau yang bertubi-tubi tertimpa masalah berat yaitu hartanya habis, anak-anaknya meninggal, terkena penyakit kulit hingga dijauhi oleh manusia. Saat itu tidak ada lagi yang mempedulikannya selain istrinya sendiri, dalam kondisi seperti itu ia tetap bersabar dan mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ketika cobaan itu telah berlarut lama, ia berdoa:
وَأيُوبَ إذ نَادى رَبَهُ أنّي مَسَنِىَ الضُرُ وَأنتَ أرحَمُ الرّاحِمِينَ (83) فَاستَجَبنَا لَهُ فَكَشَفنَا مَا بِهِ مِن ضُر
“Dan ingatlah (kisah Ayyub), ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan engaku adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka kamipun memeperkenankan seruanya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya…” (QS Al-Anbiya` (21): 83-84)

Ajaibnya, doa juga dapat menghilangkan kegelisahan dan kesedihan, menjadikan hati lapang, mempermudah urusan, dalam doa seorang hamba bermunajat kepada Tuhannya, mengakui kelemahan dan ketidak berdayaannya, mengungkapkan rasa butuhnya kepada Pencipta dan Pemiliknya, doa juga sarana untuk menghindari murka Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ لَمْ يَسْأَلْ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ
“Barang siapa tidak mau meminta kepada Allah, niscaya Dia akan marah kepadanya” (HR. Ahmad & Tirmidzi).

Berbeda dengan manusia yang justru marah atau enggan jika seseorang meminta-minta, Allah justru senang pada hamba-Nya yang meminta (berdoa) dan marah pada hamba-Nya yang enggan berdoa. Seorang penyair membuat sebuah ungkapan: Janganlah engkau meminta manusia satu kebutuhan. Mintalah kepada yang pintu-Nya tak pernah tertutup. Allah marah jika engkau tidak meminta-Nya. Sedang manusia justru marah ketika meminta.

Doa juga menjadi senjata bagi orang-orang yang terzalimi, ia adalah tempat berlindung bagi orang-orang lemah yang putus harapan, tertutup segala pintu di hadapanya, Imam Syafi’i mengatakan: Apakah engkau meremehkan doa dan memandangnya sepele. Padahal engkau tidak tahu apa yang diperbuat. Doa bagaikan anak panah-anak panah malam yang tak kan meleset. Akan tetapi ia memiliki masa, dan masa itu ada penghujungnya.

Berbagai kisah tentang kekuatan doa menegaskan betapa pentingnya berdoa dalam kehidupan seorang mukmin. Sebagaimana yang diceritakan oleh Anas bin Malik berikut ini. Anas (bin Malik) berkata; Pada suatu hari saya bersama ibuku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibuku menyelimutiku dengan separuh kerudungnya dan separuhnya lagi untuk menyelendangi saya. Ibuku berkata; ‘Ya Rasulullah, inilah Unais (panggilan Anas ketika masih kecil), putra saya. Saya ajak ia kemari agar kelak membantu engkau. Oleh karena itu, doakanlah untuknya! Kemudian Rasulullah berdoa untuk Anas; “Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya!” Di kemudian hari Anas berkata; Demi Allah, harta saya sekarang sungguh banyak sekali, anak dan cucu saya kini telah mencapai seratus orang lebih.” (HR. Muslim)

Artikel ini dimuat di Majalah Al Akhbar edisi Mei 2026

Komentar