Hijrah Tak Sekedar Gaya | Kang Daly Lesmana Putra Abu Rosydan As-Sundawi | Majalah Al Akhbar Edisi Juni 2026 | 082140888638
Para artis terkenal, orang kaya, dan para pejabat, setelah hijrah, kehidupannya berubah total. Dulu mungkin tidak pernah shalat kini ia pun melaksanakan shalat. Dulu bergelimang kotoran maksiat kini ia hidup dalam taat. Dulu sering menghabiskan uang dan waktu di tempat maksiat seperti bar atau diskotik sambil ditenami wanita-wanita, kini ia habiskan waktunya di dalam Masjid dan majelis-majelis ilmu untuk mendengarkan nasehat-nasehat agama. Dulu masih suka buka-bukaan aurat, kini tampil dengan penampilan layaknya orang shalih lagi taat, lengkap dengan cadar dan hijabnya yang lebar juga lengkap dengan peci, jubah dan jenggotnya yang menghiasi wajahnya.
Ada juga diantara mereka yang kemudian setelah “hijrah” bukan hanya soal penampilan mereka yang berubah, tapi ada juga yang diuji dengan berbagai ujian, ada yang diuji dengan terpuruknya keadaan ekonominya, popularitasya, jabatannya, hingga ujian keluarga dan lainnya. Tak sedikit karena ujian itu mereka yang sudah “hijrah” kembali ke dunia lamanya, penampilan yang dulu terlihat taat kini kembali ke penampilan lama yang buka-bukaan aurat. Dulu ia taat kini kembali pada maksiat. Dulu suka menghabiskan waktu di masjid dan majelis ilmu kini ia kembali ke bab-bar dan diskotik-diskotik sambil menenggak minuman setan.
Ada pula orang-orang yang berhijrah secara penampilan mereka terlihat baik, terlihat sholih lagi taat, namun sayang lisan mereka begitu kasar dan tajam. Jempol-jempol mereka pun tak kalah “sadis” dengan lisannya saat mereka berselancar di media sosial. Penampilan mereka yang seolah sebagai hamba yang taat tapi lisan dan tulisannya bagaikan “racun” yang mematikan dan seperti “pedang” terhunus bagi siapapun yang berbeda dengan mereka. Mereka cela kehormatan orang lain, bahkan tak segan mencela, menghina dan mencaci maki kehormatan seorang da’i, ustadz, kyai, tuan guru, ulama dan habaib hanya karena beliau-beliau itu dianggap tidak sejalan dengan pemahaman mereka. Kata-kata kotor dan hina keluar dari lisan dan tulisan mereka, bahkan ujaran kebencian dan fitnah pun keluar juga ditujukkan pada siapapun yang mereka anggap di luar komunitas mereka. Hijrah mereka yang selama ini mereka lakukan justru malah untuk menancapkan bendera permusuhan dan kebencian, serta memecah belah persatuan (ukhuwwah) diantara ummat Islam yang selama ini sudah berjalan harmonis.
Bagaimana agar kita bisa istiqomah dalam hijrah yang benar?
- Perhatikan Niatmu. Sebagaimana sudah disebutkan tentang hadits niat diatas, bahwa perkara niat adalah perkara penting yang mesti diperhatikan setiap muslim. Niat dalam berhijrah bukan berarti akan selalu mulus tanpa pernah menemui ujian atau hambatan, hijrah bukan sekedar merubah penampilan semata namun ia juga harus diiringi dengan merubah Qolbu (jantung hati) diri kita. Maka persiapkan jantung hati kita dengan terus memperbaharui niat dan memfokuskannya bahwa tujuannya hanya Alloh semata bukan yang lainnya. Karena jika tujuan niatnya sudah Alloh semata, maka ujian, rintangan, hambatan, atau apapun tidak akan mengubah pendirian dan kekuatan tekadmu dalam berhijrah.
- Carilah guru-guru yang benar-benar membimbingmu menuju kepada ketaatan kepada Alloh semata dan meneladani Rosul-Nya. Hadiri majelis-majelis yang diisi oleh guru-guru yang menuntunmu dalam kebaikan, mengajarkan saling menyayangi dan saling mencintai karena Alloh semata. Guru terbaik adalah guru yang senantiasa membimbing, menasehati, mengarahkan, mengkoreksi kesalahanmu, mengingatkanmu dengan kelalaianmu, dan selalu ada untuk menuntunmu di jalan Alloh. Jangan sampai kamu menghadiri majelis-majelis yang di dalamnya justru malah menuntun dan membimbingmu pada keburukan, apalagi jika sudah sampai berani menjatuhkan marwah atau kehormatan orang lain hanya karena pikiran sempitnya yang tidak bisa menerima perbedaan pendapat. Sebab guru yang baik dan benar, ia akan selalu berlapang dada dalama menyikapi perbedaan yang ada, sebab ia paham bahwa perbedaan adalah sebuah Sunnatulloh yang tidak bisa dipungkiri dan dihindari. Meskipun mungkin ia berbeda pendapat, namun ia akan mampu untuk menerimanya dan saling bertoleransi dengan menghormati perbedaan. Ia juga tidak akan mencela apalagi sampai mencaci maki hanya karena perbedaan pendapat, baginya perbedaan yang terjadi tidak menjadi penghalang untuk saling bersaudara dan menjalin hubungan baik dengan semua orang.
- Perhatikan siapa temanmu. Teman atau sahabat itu memiliki pengaruh besar bagi seseorang, tak sedikit orang baik berteman dengan orang buruk malah jadi terbawa buruk karena pertemanan, begitupun sebaliknya. Sampai-sampai Nabi saja pernah bersabda yang maknanya : “Agama seseorang tergantung temannya. Maka perhatikanlah dengan siapa kalian berteman dekat.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ahmad). Maka jika kamu sudah berhijrah, carilah teman-teman yang baik seperti kamu mencari guru yang baik, teman yang suka menasehati dan mengingatkan kesalahan kita, teman yang selalu ada untuk membimbing dan menuntun kita untuk bersama di jalan Alloh.
- Sibukkan dirimu dengan ketaatan, yakni dengan cara gunakan waktumu untuk hal-hal bermanfaat seperti untuk menghadiri majelis ilmu, membaca Al-Qur’an, membaca wirid dan dzikir khususnya dzikir di pagi dan petang, janga putus dari berdo’a khususnya do’a-do’a meminta istiqomah dan ketetapan hati dalam agama, membaca kitab atau buku bermanfaat khususnya terkait ilmu-ilmu agama yang sifatnya Fardhu ‘Ain seperti ‘Aqidah dan Fiqih, membaca kisah-kisah para Nabi dan Rasul, kisah-kisah para Shahabat Nabi dan kisah -kisah para Wali dan Orang-orang Shalih.
Artikel ini sudah dimuat di Majalah Al Akhbar Edisi Juni 2026


Komentar
Posting Komentar