Manusia itu Seperti Bahan-bahan Masakan | Ustadzah Nunuk Indah Mayang Sari, S.Pd. | Majalah Al Akhbar Edisi Juni 2026 | 082140888638

082140888638 Yayasan Al Akhbar Ar Refahiyah


Allah Al-Mujib meng-ada-kan insan di permukaan dunia dengan berbagai ragam persis seperti bahan-bahan masakan. Setiap ada individu yang mengkhayalkan Islam menjadi satu-satunya agama yang dipeluk, Allah akan selalu memberikan pelajaran bahwa makhluq bernyawa-berakal tidak akan pernah satu. Entah berbeda, entah berkonfrontasi. Entah berselisih, entah berseteru. Konflik horizontal akan terus bergulir seiring bergulirnya jarum jam baik sekecil dzarrah sampai sebesar buana.

Allah Al-Jamil berfirman,

{وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ [99] وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ [100] }

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu [hendak] memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” [QS. Yunus: 99-100]

SunnatuLlah ini mesti kita sadari sebagai realitas sosial. Kita harus ingat betul bahwa manusia itu seperti bahan-bahan masakan. Allah Al-Khaliq tidak pernah memunculkan dari tanah satu rupa saja; dan semua kebutuhan perut Bani Adam dari tanah; buah dan sayur. Hewan darat, air, udara; semuanya hidup -sebagai asupan nutrisi manusia- berasal dari tanah. Semua tumbuhan dan binatang sangat bervariasi. Fisik dan psikis humanis sulit untuk ideal bila vegetarian saja atau hanya nonvegetarian. 

Tidak terbayangkan dalam benak kita andaikata semua bahan masakan tidak beraneka rasa: asin, manis, pahit, asam, hambar, pedas, empuk, kenyal, keras, padat, lumer, panas, dingin, dan lain-lain. Berkat semua bahan konsumsi manusia bermacam-macam itulah lidah merasakan sensasi dan pikiran merasakan impresi. Bisa kita imajinasikan bagaimana tidak enaknya satu hari penuh hanya makan nasi dan air saja tanpa apapun; tidak akan puas maupun kenyang.

Setelah menafsiri ayat di atas, Imam Ibnu Katsir menyitir beberapa ayat yang serupa,

{يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ}

Dia menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya, maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. [QS. Fathir: 8]

{لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ}

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk [memberi taufiq] siapa yang dikehendaki-Nya. [QS. Al-Baqarah: 272]

{لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ}

Boleh jadi kamu [Muhammad] membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman. [QS. Asy-Syu'ara: 3]

{إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ}

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu sukai. [QS. Al-Qashash: 56]

{فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ}

karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedangkan Kamilah yang menghisab amalan mereka. [QS. Ar-Ra'd: 40]

{فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصيْطِرٍ}

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan, kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. [QS. Al-Ghasyiyah: 21-22]

Nabi Muhammad sebagai individu paling kenal Allah Azh-Zhahir dibanding seluruh manusia, secara default [thabi’iyy], sangat berhasrat tidak ada satupun yang mencurigai-Nya. Beliau punya ambisi kuat ingin seluruh penghuni bumi sepanjang masa mengimani dan mengamini Allah Al-Mu`min. Dia tidak pernah menciptakan manusia satu ‘warna’. Dia merancang segala sesuatu berbeda secara distingtif. 

Segetol apapun kita berdakwah akan tetap ada makhluq-makhluq bengal. Seserius apapun kita menggerakkan masjid dan majelis akan selalu ada personal-personal nakal. Kita pun ingat bahwa semua kita adalah ahli maksiat hanya berbeda-beda saja maksiatnya sekalipun kita ‘alim atau shalih. Sekadar su`uzh-zhann itu dosa, sebatas menghardik itu dosa, semata ‘ujub itu dosa; walau sedetik. Kita berazzam untuk menjadikan Islam masuk ke semua qalbu sepanjang waktu namun apa daya Allah tidak menghendaki itu.

Kita berdakwah, berdakwah saja, tidak usah memaksakan ataupun hanya ingin publik auto hijrah. Mustahil. Secinta-cintanya fans terhadap kita selaku pendakwah, pasti banyak yang tidak dia sepakati dari apa yang kita sampaikan. Beda otak beda kehendak. Beda logika beda selera. Beda pikiran beda kepentingan. Beda pendapatan beda pendapat. Beda nalar beda prioritas.

Kalau kita berdakwah menunggu semua orang setuju, menanti semua orang suka, mengharap tidak ada satupun orang yang kontra dengan kita atau sekadar ada perasaan tidak nyaman dengan kita, maka masjid-masjid, pesantren-pesantren, majelis-majelis akan libur semuanya. Kalau kita baru mau menerima dakwah jika pendakwahnya sempurna, sesuai selera kita, tidak punya salah apapun kepada kita, maka kita tidak akan pernah mau menyimak dakwah. 

Tidak ada manusia sempurna. Semua manusia pasti punya rekam jejak kesalahan walaupun sudah taubat. Efek maksiat pun bisa jadi tetap ada pasca hijrah. Sejak zaman Nabi Adam sampai Kiamat, manusia buruk akan tetap ada -walau satu-dua menit- di tengah-tengah komunitas manusia baik. Sosok-sosok pendosa senantiasa ada, hanya berbeda-beda saja dosanya, kecil atau besar, sembunyi atau terang-terangan. 

Jika kita menjadi baik menunggu orang-orang baik berarti kita masih belum baik karena kita tergantung kepada manusia bukan tergantung kepada Allah. Masakan menjadi enak karena ada bahan yang berasa asin, manis, pahit, asam, hambar, pedas, empuk, kenyal, keras, padat, lumer, panas, dingin, dan lain-lain. Perpaduan aneka macam kepribadian manusia menjadikan kehidupan ini indah. Orang-orang shalih bisa jadi dapat rizqi dengan keberadaan orang-orang thalih. Kita yang ahli taat sering kali dapat keuntungan dari kelakuan ahli maksiat. Ibadahpun banyak yang tidak bisa dilakukan jika tidak ada pecinta dunia. 

Kekecewaan pasti menjejali nafas-nafas kita karena masing-masing punya idealisme dan imajinasi. Kita mesti menerima kenyataan manakala tidak ingin hancur oleh kekecewaan. Biarlah Allah punya jalan, kita hanya bertugas menyampaikan. Keputusan Allah atas masing-masing individu, kita kira ada yang buruk, tidak, semuanya baik untuk algoritma semesta. Allah sengaja mentaqdirkan oknum-oknum bejat: koruptor, pezina, penjudi, pemabok, pembunuh, penipu, penimbun, pelakor-pebinor, penghasut, penjilat, pemalas, dan lain-lain, adalah demi stabilitas kehidupan dunia-Akhirat. Kalau Neraka kosong, lalu para malaikat penjaga Neraka cari lowongan kerja di mana?

Artikel ini sudah dimuat di Majalah Al Akhbar Edisi Juni 2026

082140888638 Kitab Asy-Syifa li Al-Qadhi 'Iyadh Arab-Indo


Komentar