Tafsir Surah Al-Kautsar Diambil dari Kitab Tas-hil Al-Masir ala Tafsir Al-Jimain | Ustadz Rendra Shodiq Tjioe | Majalah Al Akhbar Edisi Juni 2026 | 082140888638

082140888638 Yayasan Al Akhbar Ar Refahiyah


﷽ ﴿إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (١) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (٢) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (٣)﴾ [الكوثر ١-٣]

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. (1) Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak; (2) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah; (3) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”

Berkata Ibnul-Jauziyy, Surat Al-Kautsar,  di dalamnya terdapat 2 pendapat: (1) Surah ini Makkiyyah, ini pendapat Ibnu ‘Abbas dan jumhur (mayoritas) ulama); (2) Surah ini Madaniyyah, ini pendapat Al-Hasan, ‘Ikrimah, dan Qatadah.

Berkata Ibnu Juzayy: Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar.” Ini adalah khithab (seruan) kepada Nabi. Kata Al-Kautsar merupakan bentuk mubalaghah/hiperbola dari kata al-katsrah (banyak). Ada tujuh pendapat dalam tafsirnya: (1) Haudh/Telaga milik Nabi; (2) Kebaikan melimpah yang Allah berikan kepada beliau di dunia dan akhirat. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, yang (juga) diikuti oleh Sa'id bin Jubair. Jika dikatakan/ Karena adanya pendapat bahwa sungai di Surga adalah bagian dari kebaikan yang telah Allah berikan kepada beliau, maka maknanya (Al-Kautsar) itu bersifat umum." (3) Al-Kautsar adalah Al-Qur`an; (4) Banyaknya sahabat dan pengikut; (5) Tauhid; (6) Syafaat; (7) Cahaya yang Allah letakkan di dalam hati beliau. Tambahan dari Ibnul-Jauziyy: (8) Kenabian , ini pendapat dari Ikrimah.

Ibnu Juzay melanjutkan: Tidak diragukan lagi bahwa Allah telah memberikan semua hal tersebut kepada beliau, Namun, pendapat yang paling shahih adalah bahwa yang dimaksud dengan Al-Kautsar adalah Haudh / Telaga, berdasarkan hadits shahih bahwa Rasulullah bersabda: "Tahukah kalian apa itu Al-Kautsar? Ia adalah sungai yang diberikan Allah kepadaku, ia adalah telaga yang jumlah bejananya sebanyak bintang di langit.

Berkata Ibnu Juzayy: Allah berfirman: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” Mengenai ayat ini terdapat 5 pendapat: (1) Perintah untuk melakukan shalat secara mutlak (semua shalat)  dan menyembelih hewan kurban termasuk hadyu (yang disembelih khusus orang yang haji) dan dhohaya (yang disembelih saat 'Iedul adha dan hari tasyriq); (2) Nabi dahulu pernah berkurban sebelum shalat 'Id, maka Allah memerintahkannya ﷺ untuk shalat dahulu baru kemudian berkurban. Maka maksudnya menurut pendapat ini adalah mengakhirkan penyembelihan hewan kurban dari pelaksanaan shalat; (3) Bahwa kaum kafir shalat dengan bersiul dan bertepuk tangan serta menyembelih untuk berhala. Maka Allah berfirman kepada Nabi-Nya: "shalatlah hanya untuk Tuhanmu dan menyembelihlah (hanya) untuk-Nya", yakni hanya untuk Allah bukan untuk selain-Nya. Berdasarkan hal ini maksudnya adalah perintah untuk bertauhid dan ikhlash; (4) Sesungguhnya makna "inhar" adalah letakkan tangan kananmu di atas tangan kirimu di dadamu ketika shalat. Maka menurut pendapat ini, kata tersebut berasal dari "an-nahr" yang artinya dada; (5) Maknanya adalah angkatlah kedua tanganmu hingga sejajar dadamu saat memulai shalat (yakni ketika takbiratul ihram).

Tambahan dari Ibnul-Jauziyy: Firman Allah Ta'ala: “Dan shalatlah untuk Tuhanmu.” Tentang shalat ini ada 3 pendapat: (1) Shalat 'Id. Qatadah berkata: shalat 'Iedul Adha; (2) Shalat Shubuh di Muzdalifah, ini pendapat Mujahid; (3) Shalat 5 waktu, ini pendapat Muqatil. Saya (Rendra) katakan: menurut saya pribadi lebih tepat yang dimaksud bukan suatu shalat tertentu tapi seluruh shalat secara muthlaq.

Tambahan dari ibnul Jauzi tentang makna "inhar" (sembelihlah korban): (6) Sembelihlah pada hari Nahr (Idul Adha), diriwayatkan oleh ‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas, dan ini adalah pendapat Atho’, Mujahid, dan jumhur (mayoritas) ulama; (7) Sesungguhnya yang dimaksud adalah menghadap kiblat dengan leher/dada (ketika shalat), sebagaimana diceritakan oleh Al-Farra`.

Saya (Rendra) katakan: menurut saya semua pendapat tentang makna "inhar" bisa digabung, perlu diingat bahwa para ulama yang mengatakan annahr dengan makna shalat sedekap di dada maksudnya sebagaimana tatacara shalat dalam kitab2 fiqih yang mu'tabaroh, bukan tangan sedekap sampai dekat ke leher seperti hampir mencekik leher sendiri, sebagaimana kesalahan yang dilakukan sebagian orang di daerah kita.

Berkata Ibnu Juzayy: Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.” "Asy-Syani`" artinya adalah pembenci, diambil dari kata "asy-syana`an" yang berarti "al-adawah"/permusuhan. Ayat ini turun berkenaan dengan (1) Al-Ash bin Wa'il, dan ada yang mengatakan mengenai (2) Abu Jahal sebagai bantahan atas ucapannya: "Sesungguhnya Muhammad itu abtar (terputus)" maksudnya tidak memiliki anak laki-laki, sehingga jika dia (Muhammad nanti) mati maka kita akan beristirahat darinya dan urusannya (urusan agama ini) akan terputus dengan kematiannya. Maka Allah mengabarkan bahwa orang kafir inilah yang sebenarnya yang abtar (terputus), meskipun dia memiliki anak, karena di :  Terputus dari rahmat Allah dan Jika dia diingat atau disebut, ia hanya diingat dengan laknat. Berbeda dengan Nabi ﷺ, penyebutan namaNya kekal hingga akhir zaman, ditinggikan di atas mimbar-mimbar dan menara-menara, serta disandingkan dengan penyebutan nama Allah. Orang-orang beriman dari zaman beliau ﷺ hingga hari kiamat adalah pengikutnya, maka beliau ﷺ kedudukannya seperti ayah bagi mereka.

Tambahan dari Ibnul-Jauziyy tentang siapa yang dimaksud dengan hal itu : (3) Abu Lahab, ini pendapat Atha'; (4). 'Uqbah bin Abu Mu'aith, ini pendapat Syammar bin 'Athiyyah; (5) Yang dimaksud adalah sekelompok orang dari kaum Quraisy, ini pendapat 'Ikrimah. Makna dari abtar (asalnya) adalah yang terputus dari kebaikan.

Saya (Rendra) katakan: Yang dimaksud dalam ayat yang ke 3 ini, semuanya benar, dan para ulama tafsir menambahkan bahwa ayat ini termasuk semua orang yang membenci dan menghina Nabi ﷺ sampai kapanpun, maka merekalah yang mabtur/ terputus dari kebaikan dan bagi mereka laknat.

Qira`at (pembacaan/pengucapan   "syani`aka"  yang mutawatirah (viral) ada 2: (1) dengan hamzah شانئك syani`aka , ini qira`ah jumhur; (2) dengan ibdal atau sesuai rasm yakni menggunakan huruf ya' yakni syaniyaka, ini qira`ah Abu Ja'far. Hadits musalsal bisuratil-kautsar, termasuk salah satu musalsal yang shahih, alhamdulillah penulis pernah mendapatkannya dari dua guru, yang pertama dengan Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-'Ubaid dan Syaikh Rikrik As-Surianji. 

082140888638 Yayasan Al Akhbar Ar Refahiyah


Komentar