Masjid Cukup Sederhana Asal Peduli | Ustadzah Nunuk Indah Mayang Sari, S.Pd. | Majalah Al Akhbar Juli 2026 | 082140888638
Indonesia punya lebih dari 800.000 masjid dan mushalla, fix negara ini jadi nomor wahid dalam hal jumlah tempat ibadah umat Islam terbanyak di dunia. Entah jago korupsinya nomor berapa, ups. Sayangnya 251.260.000 muslim-muslimah di negara konoha ini tidak selalu shalat lima waktu di masjid-mushalla. Kalau masjid-mushalla dikunci kecuali buat jama’ah fardhu pasti auto tantrum, kan? Sudah saatnya masjid-mushalla dikelola lebih pro, biar bisa ngelayani jama’ah 24 jam selayaknya hotel-hotel berbintang, bukan seperti pos kamling.
Banyak Masjid-Mushalla yang megah-mewah, full AC, karpet empuk, harum mewangi, bertabur kaligrafi, berlapis emas, sound system memanjakan, toilet berkelas, tapi tidak auto over load jama’ah, kenapa? Diantara faktornya ialah banyak orang kaya marah-marah kalo donasi masjid bukan untuk bangunan, infrastruktur, fasilitas, sarana dan prasarana, meskipun untuk membiayai apa saja yang membuat masjid meluber-luber jama’ahnya lima waktu. Saatnya kita ubah pola pikir, bahwa masjid tidak harus megah-mewah, yang penting adalah masjid selalu ready buat apa saja kebutuhan jama’ah, sehingga jama’ah akan berebut memenuhi masjid dengan ibadah.
Masjid yang mesti dikunjungi 5 kali sehari juga tidak harus bangunan kearab-araban megah berfasilitas lengkap. Dua orang yang shalat bersama sudah terhitung jama’ah. Shalat yang dikerjakan secara jama’ (gabung 2 shalat) di masjid juga terhitung dilaksanakan dua kali di masjid. Shalat wajib berjamaah di masjid tidak harus pada awal waktu bersama imam rawatib (tetap). Tempat shalat yang hanya berupa bambu berjajar di atas tanah tanpa atap atau sekadar karpet/terpal tanpa dinding bahkan atap juga berstatus masjid asalkan disepakati pemilik sebagai masjid milik Allah sehingga sah shalat tahiyyatul-masjid dan i’tikaf di situ. Terlalu luas bumi ini kalau definisi memakmurkan masjid hanya untuk shalat jama’ah yang di masjid besar, proper, rame. Masih banyak pelosok bumi yang perlu didirikan masjid di situ, biarpun darurat, sementara, dadakan.
Seluruh bumi adalah masjid, bukan sebatas bangunan. Banyak wilayah minus yang “mendirikan masjid sementara” sebatas tiang bambu, dinding tumpukan batu tanpa semen, atap dedaunan, bahkan tanpa atap, tanpa dinding, tanpa tiang, sekedar alas terpal dan pembatas tali. Masjid sementara ala kadarnya dijejali jama’ah karena masjid menjadi one stop living di mana kebutuhan hidup mereka terpenuhi. Esensi masjid bukan bangunan. Mestinya sibuk memakmurkan masjid dengan kegiatan ibadah dan aksi sosial bukan membangun masjid megah-mewah.
Banyak masjid darurat atau sederhana tapi bisa banyak customer karena jadi one stop living, di mana kebutuhan jama’ah terpenuhi, baik ruhani maupun jasmani. Banyak dermawan kena block mental bahwa yang namanya waqaf dan infaq untuk masjid hanya untuk keperluan bangunan, infrastruktur, fasilitas, sarana dan prasarana, tidak boleh untuk membiayai apa saja yang membuat masjid meluber-luber jama’ahnya lima waktu. Saatnya kita ubah mindset bahwa masjid tidak harus megah-mewah, yang penting adalah apa yang dibutuhkan jama’ah, masjid ada dan siap memenuhinya, sehingga jama’ah akan “repeat order” sehingga lima waktu penuh sesak dengan ibadah.
Alfamaret & Indomaret buka 24 jam, Masjid buka cuma waktu shalat, Aneh! Warung Madura kalau Kiamat tetap buka tapi cuma setengah hari, Masjid tutup 22 jam, 2 jam buka hanya untuk shalat berjama’ah, Aneh! Rumah Sakit jaga 24 jam, Masjid buka hanya kalau dibuka marbot, Aneh! Donor darah, Kedai Kopi, SPBU, Bandara, Hotel, dll. banyak yang siaga 24 jam, lha Masjid katanya Rumahnya Allah, kok tutup? Seharusnya masjid 24 jam ready untuk umat Islam. Inventaris masjid yang mahal diamankan tanpa menutup masjid. Bangunan masjid elit, bantu umat syulit, itu masjid apa istana Firaun?
Infaq untuk masjid-mushalla tidak berarti tidak boleh untuk selain bangunan, infrastruktur, fasilitas, dan sarana-prasarana, kecuali diaqadkan untuk tertentu. Infaq boleh dialokasikan untuk apa saja demi ‘over load’ jama’ah masjid lima waktu. Tidak sedikit donatur marah-marah kalo infaqnya bukan untuk bangunan, infrastruktur, fasilitas, sarana dan prasarana, karena dipersepsikan tidak jadi pahala jariyah. Kalau dana masjid untuk transport khathib, kafalah imam, bisyarah muadzdzin, upah marbot, honor teknisi, hadiah lomba pildacil, bukber, dan semacamnya diyakini tidak jadi pahala jariyah. Masjid Jogokariyan, Masjid Kapal Munzalan, Masjid Sejuta Pemuda, Masjid Muslim Billionaire, Masjid Affiliate, Masjid Makan-makan, dan lain-lain selalu penuh jejal jama’ah lima waktu bahkan hampir 24 jam. Ketika infaq diyakini hanya berbuah pahala jariyah jika untuk bangunan masjid-mushalla, maka jadi gede doang, megah-mewah-elit, tapi umat ga mau ke situ karena harus menyambung hidup sendiri tanpa mendapat partisipasi masjid. Saatnya kita ubah paradigma, masjid jangan lagi sibuk mempercantik diri tapi ga punya impact buat umat, bahwa yang urgen adalah masjid bisa selalu ready buat umat dengan segala gedebak-gedebuknya.
Rasulullah memilih Masjid An-Nabawiyy sederhana saja, dinding batu tanah liat, atap pelepah kurma, tiang pohon kurma, tidak ada kaligrafi maupun ornamen, tidak ada kipas angin apalagi mesin AC, tidak ada lantai keramik apalagi marmer, kalau hujan tanah di dalam masjid becek. Rasulullah memilih pengalokasian infaq untuk kebutuhan dakwah lokal, syi’ar Internasional, pendidikan, pengobatan, pengentasan kemiskinan, upah pasukan jihad, dan segala problematika umat. Masjid An-Nabawiyy pada zaman Nabi selalu penuh sesak dengan kebaikan 24 jam. Tidak hanya shalat lima waktu, tapi juga Dhuha, Qiyamul-Lail, Kajian, Dzikir, Tilawah, Perform Seni Bela Diri, Pengobatan, Nongkrong Santai, Dialog Lintas Agama, Pengumpulan-Penyaluran Dana Sosial, Pengambilan Keputusan Kenegaraan, Penginapan Santri, dan lain-lain. Umat Islam di Indonesia populasinya 251.260.000 orang. Masjid-Mushalla di Indonesia lebih dari 800.000 bangunan. Hitungan kasar, andai semua muslim shalat di masjid lima waktu, maka setiap masjid dijejali 314.075 orang, lima waktu.
Bumi Allah seluruhnya masjid. Jangan kolot cuma mau masjid-mushalla yang megah-mewah full jama’ah. Jika umat Islam membiarkan banyak lokasi tidak ada masjid, maka lokasi-lokasi itu akan jatuh ke tangan pemabuk, pezina, penjudi, pencuri, dan lain-lain, begitu berhasil mereka kuasai, kita yang akan kesusahan mendirikan masjid di situ. Jika umat Islam hanya mau shalat di masjid tertentu maka tidak akan ada perkembangan jumlah masjid. Dengan shalat berjamaah di lokasi jauh dari masjid akan ada barakah dirintisnya masjid di lokasi itu. Masjid besar berawal dari satu orang yang shalat sendirian lalu mencari barengan. Masih banyak lho jengkal bumi yang tidak termakmurkan dengan shalat berjama’ah. Biarpun sudah ada lebih dari 800.000 masjid-mushalla tetap harus ditambah terus. Tidak harus megah-mewah, yang penting banyak dulu, tapi full service ke ummat.


Komentar
Posting Komentar