Atasi Anak Pecandu | Hikmah Farouq Okbah | Majalah Al Akhbar Edisi Agustus 2026

082140888638 Yayasan Al Akhbar Ar Refahiyah


Kalau anak terkena pornografi atau narkoba, bagaimanakah langkah pertamanya? Langkah pertamanya adalah, kita pakai surah Ali Imran ayat 159, yang artinya: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakkal.”

Kita minta ampun kepada Allah. “Ya Allah, ampuni saya ya Allah, anak saya kok jadi senang nonton pornogafi.” Kemudian, kita minta lemah lembut, “Ya Allah, berikanlah saya lemah lembut ya Allah.” Lalu maafkan anak kita. “Ya Allah, saya maafkan anak saya, Fulan bin Fulan, atau Fulanah binti Fulan, dia suka lihat pornografi ya Allah.” Kemudian, memohonkan ampun baginya, “Ya Allah, ampunilah dia ya Allah...”

Setelah itu, barulah ajak musyawarah atau diskusi. Karena parenting yang kita praktikkan adalah parenting ala Nabi, prophetic parenting, maka sebagai orang tua kita tidak boleh semena-mena kepada anak. Tapi jika kita memarahinya, menghinanya, memakinya, justru dia malah dengan sengaja melakukannya. Kenapa? Karena rasa dendamnya kepada orang tua, bukan karena dia senang lihat pornografi dan sebagainya.

Bagaimana dengan otaknya? Di otak itu ada sekitar 100 miliar neuron. Menurut para ahli, sambungan-sambungan otak ini akan membentuk memori. Maka misalkan seseorang melihat pornografi, sambungan di otaknya itu akan ada memori pornografi. Apakah akan merusak otak? Ada satu memori pornografi saja sebenarnya sudah amat sangat mengganggu.

Jika kita membahas tentang lompatan listrik di otak pada saat anak melihat hal-hal yang teralu ekstrem, bukan hanya pornografi, misalkan kejahatan, hal itu akan membuat lompatan listrik di otak anak jadi terbakar, hangus. Jika anak melihat video-video yang negatif, yang ekstrem, atau bentakan orang tua, hardikan orang tua, walaupun sebetulnya tidak sengaja menghardik anak, tapi karena kaget, misalkan anak membawa gelas tiba-tiba jatuh, lalu orang tuanya langsung teriak, “Bodoh kamu!” Maka ada lompatan listrik di otak si anak, dan jika lompatannya terlalu ekstrem, maka sambungan neuron akan menjadi hangus.

Terbentuknya memori di otak adalah sebuah peristiwa terjadinya sambungan neuron otak manusia. Dan bila sudah tersambung. tidak bisa dilepaskan lagi. Namun otak punya kemampuan menyambung koneksi neuron lainnya di sekitar sambungan memori tersebut. Kemampuan itu dsebut neuroplastisitas. Lalu bagaimana memperbaikinya? Apakah bisa diperbaiki otak yang hangus? Ternyata tidak bisa. Mengapa? Karena regenerasi sel-sel otak itu adalah 200 tahun sekali. Padahal umur kita belum tentu sampai 200 tahun. Umur kita paling 70 tahun. Paling lama 80 tahun. Lalu bagaimana jadinya? Ya sudah, seperti itu jadinya.

Kita hanya bisa menyambungkan neuron yang lain. Karena kabel saraf ini amat bayak sambungannya. Jika salah satu sambungan ada yang rusak, di sambungan yang lain kita bisa membuat sambungan yang baik. Oleh karena itu kita berikan arahan-arahan yang baik kepada anak kita. Kita berikan senyuman, kita berikan hal-hal yang baik, agar sambungan-sambungan neuron yang lain itu lebih baik. Mungkin dia masih mengingat pornografi yang pernah dilihatnya, tapi kita harus bisa membuat sambungan baru dengan sambungannya dengan hal yang baik. Sehinga kita arahkan bagaimana caranya agar anak tidak senang pada pornografi. Caranya, orang tua harus membuat si anak nyaman dan aman. Sehingga anak lebih senang dengan orang tuanya, ngobrol sama orang tuanya, main sama orang tuanya, daripada dia melihat pornografi. Itulah tantangan kita. Agar apa? Agar sistem saraf yang terlanjur hangus oleh pornografi, terlanjur ada memori-memori tentang video-video buruk itu, tertangkal, dapat ditolak dengan memori kebaikan. Itulah yang harus kita perbuat.

Kemudian jika narkoba bagaimana? Apalagi narkoba. Pasien-pasien narkoba dulu, mohon maaf sekali, jika ada hal tertentu, lemotnya luar biasa. Mengapa? Karena narkoba benar-benar mengganggu sistem listrik yang ada di otak. Apakah dia masih ingat bandar narkobanya? Dan di mana dia membelinya? Masih ingat. Tapi kita mencoba merehabilitasi. Kita mencoba memasukkan ke dalam otaknya yang belum rusak itu dengan kebaikan-kebaikan. “Masih bisakah ?” Alhamdulilah masih bisa.Karena menurut para ahli, otak manusia jika diberikan masukan-masukan kebaikan sampai umur 100 tahun pun, ia masih belum penuh dengan kebaikan-kebalkan itu. Masih bisa. Tapi rata-rata umur kita tidak sampai 100 tahun.

Jadi sekali lagi, Alhamdulillah, walaupun sel otak tidak bisa dibetulkan, tapi ada potensi sambungan-sambungən neuron yang masih banyak. Maka teruslah membuat kebaikan-kebaikan kepadanya. Teruslah ajarkan kepadanya hal-hal kebaikan yang baru. Terus arahkan. Alihkan pada kebaikan-kebaikan. Kita hanya bisa seperti itu. Sekali lagi, untuk ayah dan bunda, kita menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya. Maka teruslah senantiasa belajar.

Kemudian, jika ada hal yang perlu diperbaiki, segera diperbaiki. Jika misalkan terlanjur berbuat kasar, terlanjur menghardik anak, segeralah meminta maaf. Dan pada saat meminta maaf, sebutkan kita meminta maaf tentang apa. “Nak, bunda minta maaf ya, saat kamu lompat-lompat di kamar bunda kemarin, bunda teriak.” “Nak, bunda minta maaf ya, kemarin bunda ngegas saat kamu telat pulang main.” Anak pasti akan senang.

Otak lebih senang jika disebutkan apa yang mau dimintakan maaf itu. “Bunda minta maaf.” “Abi minta maaf.” “Umi minta maaf” Karena kita yang khilaf, maka segeralah minta maaf. Tapi, biasanya kita sering tanpa sadar ngomongnya seperti ini, “Maafin bunda ya Nak! “Maafin umi ya Nak!” “Maafin abi ya Nak.” Padahal, perkataan “bunda minta maaf” dengan “maafin bunda” itu berbeda.

Secara bahasa, secara semantik, secara diksi, secara frasa, itu berbeda. Karena kita yang salah, maka kalimat yang tepat adalah, “Bunda minta maaf ya Nak”. SEdangkan alimat, “Maafin bunda ya Nak,” berarti kita memaksa dia untuk memaafkan kita. Padahal kita yang salah. Anak mau memaafkan hari itu, pekan depan, minggu depan, bulan depan, itu adalah hak dia. Namun yang penting, anak akan belajar bahwa orang tuaku saja, ayah dan ibuku saja, terutama ibuku yang melahirkan aku, kalau khilaf minta maaf. Maka itu akan masuk ke otaknya, “Saya pun harus begitu. Kalau saya khilaf, saya akan segera minta maaf”. 


082140888638 Yayasan Al Akhbar Ar Refahiyah


Komentar