Berbagi Bukti Iman dalam Diri | Ustadzah Nunuk Indah Mayang Sari, S.Pd. | Majalah Al Akhbar Edisi Agustus 2026

082140888638 Yayasan Al Akhbar Ar Refahiyah


Hidup di dunia tidaklah untung jika mengabaikan kebenaran. Begitu banyak dari kita yang tidak sadar bahwa kebenaran akan memberi kita manfaat kepada diri kita sendiri begitupun sebaliknya dengan perbuatan buruk akan kembali kepada yang mengerjakanya. Dan Allah selalu bersama orang-orang yang bertaqwa kepadanya. Sudah banyak role modelnya bahwa orang yang berjaya dan memiliki kekayaan yang berkah dan manfaat berawal dari perbuatan baik mereka dan kedekatanya kepada Allah tentunya dengan kegigihanya. Bagaimanapun juga disetiap perbuatan yang kita kerjakan seringnya Allah akan menguji terlebih dahulu untuk melihat ketulusan dan kesungguhan kita kepadana sebelum Allah memberikan apa yang menjadi keinginan kita.

Betapa banyak pribadi yang penuh kebingungan kemana harus kaki terlangkah demi menggapai kekayaan. Padahal kekayaan bisa ditemukan di Allah. Kita tinggal meminta dan mengambil kekayaan yang kita inginkan dari Allah. Asalkan kita selalu berusaha dan berjuang memenuhi kemauan Allah. Kita lakukan apa saja yang Allah mau, maka kita akan diberi Allah sebagian dari kekayaannya sesuai apa yang kita lakukan, bahkan Allah selalu melebihkan.

Jangan dikira apa yang di sisi Tuhan hanya bisa diambil ketika di Akhirat saja. Bagi orang-orang baik, apa yang di sisi Tuhan bisa diambil selama masih di dunia untuk kepentingan duniawi maupun ukhrawi. Seperti apa orang baik itu? Dijelaskan oleh Allah, orang baik-baik itu adalah orang-orang yang datang dengan kebenaran yaitu para nabi dan rasul sementara orang-orang yang membenarkan kebenaran adalah para pengikut nabi dan rasul. Membenarkan kebenaran yang dibawa nabi dan rasul bukan sekadar mengakui kebenarannya melainkan juga menjadikan kebenaran itu sebagai pedoman hidup dan landasan ketaqwaan.

Kenyataan ini jelas-jelas akan ditolak keras oleh penganut paham rasionalis-materialistis yang masih banyak sekali jumlahnya sampai dalam tubuh umat Islam. Anggapan mereka, mustahil kita bisa begitu saja mengunduh kekayaan Allah walaupun secuil lalu menghadirkannya ke bumi. Anggapan ini salah sepenuhnya. Faktanya, Allah telah membuka kesempatan sebesar-besarnya kepada kita untuk mengambili sesuka hati apa saja yang kita inginkan dari kekayaan Allah, sedangkan Allah tidak akan pernah menjadi kekurangan apalagi mengalami kemiskinan karena kita mengambili kekayaan-Nya.

Rugi sekali orang-orang yang tidak percaya bahwa kekayaan Allah bisa diunduh sejak di dunia dengan syarat taqwa. Rugi. Rugi. Rugi. Lebih rugi lagi apabila pikiran berkecenderungan untuk mengejar dan membangun kekayaan dengan kerja keras dan cerdas namun dengan stigma dasar bahwa ganjaran dari Allah tidak bisa dicairkan di dunia. Bahkan super rugi apabila yang diharap-harapkan bisa memberikan kekayaan adalah manusia, sistem kerja, metode bisnis, usaha, perniagaan, dan lain sebagainya. 

Perlu diluruskan, kita bekerja, berusaha, berdagang, berbisnis itu semata-mata karena Allah menyuruh kita berkesibukan di dunia dengan kesibukan yang bukan main-main, senda-gurau, atau kesia-siaan. Jadi jangan pernah meyakini pekerjaan, usaha, bisnis dan dagang lah yang mengkayakan kita. Adapun kalau ternyata kita menjadi kaya setelah kita bekerja, berusaha, berbisnis dan berdagang semata-mata karena Allah mentaqdirkannya. Bahwa Allah telah memberikan secuil kekayaan-Nya kepada kita.

Cermati! Betapa banyak orang yang bagus kinerjanya, canggih bisnisnya, hebat usahanya, luar biasa produk-produk dagangannya, ternyata hidup mereka miskin, profit banyak tapi defisit gila-gilaan hingga terjadi pailit/bangkrut. Itu namanya tidak kaya. Padahal secara hitung-hitungan manusia, secara kasat mata, secara logika ekonomi, harusnya mereka menjadi raja-raja konglomerat. Nyatanya, kekayaan mereka cepat datang-cepat pergi dan lama tak kembali kaya lagi. Demikianlah nasib orang-orang yang tidak dikehendaki kaya oleh Allah karena tidak meyakini bahwa Allah sajalah yang bisa mengkayakan manusia.

Jadi, bertindak benar adalah kunci kekayaan, kesejahteraan, keselamatan, keamanan, keberlimpahan. Bertindaklah yang benar sesuai kebenaran yang diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul niscaya kita akan diarahkan oleh Allah menuju kekayaan yang abadi dan langgeng. Bertindak benar dengan ikhlash, karena Allah, bukan karena semata-mata ingin mendapatkan harta dari manusia. 

Setiap kali kita bertindak benar, maka kita secara otomatis menabung sekian harta dunia dan harta Akhirat di sisi Allah. Tinggal kita yang memutuskan, sepenuhnya disimpan dan dinikmati di Akhirat saja atau juga di dunia. Allah Al-Wahhab berfirman,

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُواْ فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ

“Tidak ada dosa atas kalian mencari karunia (rizqi perniagaan) dari Tuhan kalian.” [QS. Al-Baqarah (2): 198]

Bertindak benar memang tidak akan pernah ada ruginya, meski banyak sekali tantangan dan ancaman dari manusia. Sepanjang kita sungguh-sungguh bertindak benar, Allah akan mengkayakan kita. Kita pun akan termasuk orang-orang yang dikehendaki kaya oleh Allah. Akan tetapi, bukankah banyak orang-orang yang tidak bertindak benar justru kaya? Ya, mereka pun dikehendaki kaya oleh Allah. Anda bisa temukan dimana-mana para konglomerat yang jalan hidupnya tidak benar. 

Sesungguhnya orang benar yang kaya dan orang salah yang kaya sama-sama dikehendaki kaya oleh Allah. Hanya saja, orang-orang kaya yang banyak dosa itu dikehendaki kaya oleh Allah di dunia saja sementara di Akhirat mereka dilumat dan dijerat dengan siksaan yang tiada hentinya. Adapun orang-orang yang bertindak benar lalu menjadi kaya, sesungguhnya Allah menghendaki mereka kaya di dunia maupun di Akhirat. Anda pilih mana?

Penyebab utama hadirnya kekhawatiran terhadap kemiskinan adalah salah tawakkal. Seharusnya tawakkal itu kepada Allah, bukan kepada manusia, harta, kendaraan, teknologi, obat, bisnis, sistem, dan lain sebagainya. Kalau kita tawakkal kepada selain Allah, kita akan khawatir jatuh miskin, takut tertimpa masalah keuangan, cemas dihujani problem ekonomi. Sementara kalau kita tawakkal hanya kepada Allah, disamping kita akan selalu tenang, kita pun akan dihujani kekayaan oleh Allah.

Jika kita amati sekarang ini banyak sekali yang berlomba untuk bershadaqah. Sebagai makhluk sosial kita juga dianjurkan agar membantu kepada orang yang membutuhkan namun apakah kita sudah mendapatkan keutamaan shadaqah yang sesungguhnya terkait kepada siapa hak itu diberikan?

Shadaqah kepada kerabat adalah lebih utama. Meskipun secara jarak kerabat yang membutuhkan lebih jauh, karena shadaqah kepada kerabat akan mendapatkan 2 pahala yakni pahala shadaqah dan pahala silaturahmi. Adapun pada situasi lain bershadaqah kepada orang lain yang membutuhkan dari pada saudara sendiri juga perlu diutamakan sebagai bentuk kepedulian kita terhadap sesama. Namun sesekali memberikan kepada kerabat dalam hal ini juga perlu dilakukan untuk menjalin silaturrahmi agar tetap harmonis. 

Berbicara mengenai shadaqah, seringkali ibadah yang satu ini dijadikan banyak orang sebagai ikhtiar terkabulnya do’a dan terhindar dari bala. Setidaknya jika kita memberi kepada orang yang lebih membutuhkan minimal mereka akan mendoakan hal-hal baik kepada kita dan Allahlah yang akan menghendaki atas kuasanya. 

Marilah bershadaqah atas sebagian apa saja yang telah Allah anugerahkan kepada siapa saja yang membutuhkan dengan tanpa sedikitpun membanggakan diri atau meremehkan penerimanya.  Dan sebaliknya, pihak yang menerima shadaqah pun tidak perlu rendah diri dan merasa terhina karena shadaqah itu merupakan haknya. Tentu dalam bershadaqah kita juga harus memperhatikan kemurnian harta yang kita berikan dalam hal halal-haramnya. Shadaqah harta haram tidak diapresiasi Allah.

082140888638 Yayasan Al Akhbar Ar Refahiyah


Komentar