Cinta Dunia Membuat Bakhil | Ustadz Fauzie Nur Zaman, S.Pd.Gr. | Majalah Al Akhbar Edisi Agustus 2026

082140888638 Yayasan Al Akhbar Ar Refahiyah


Kita hidup di zaman yang serba cepat. Setiap hari yang terlihat di media sosial adalah orang membeli rumah baru, ganti mobil, liburan ke luar negeri, bisnis berkembang, dan berbagai pencapaian dunia lainnya. Sedikit demi sedikit, tanpa sadar hati kita mulai mengukur kebahagiaan dengan ukuran dunia. 

Seorang muslim tidak diciptakan untuk menjadi budak dunia. Dunia hanyalah tempat singgah, bukan tujuan akhir. Ada orang yang memiliki miliaran rupiah, namun hatinya selalu mengingat Allah. Sebaliknya, ada yang hartanya sedikit, tetapi pikirannya siang malam hanya mengejar dunia. Masalah sebenarnya bukan berapa banyak yang kita miliki, tetapi siapa yang menguasai hati kita.

Rasulullah bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَتَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَتَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ، وَتَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيلَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian mewah. Jika diberi ia ridha, jika tidak diberi ia marah.” (HR. Al-Bukhari)

Perhatikanlah, Rasulullah tidak mengatakan “pemilik dinar”, tetapi hamba dinar. Artinya, ada orang yang sebenarnya bukan menyembah patung, tetapi hidupnya dikendalikan oleh uang, bahagianya karena uang, sedihnya karena uang, marahnya karena uang, pertemannya karena uang, bahkan ibadahnya pun kadang karena uang. Inilah perbudakan modern.

Sahabat Al Akhbar … ketahuilah “Dunia Selalu Membuat Tidak Pernah Puas” Ya, Sifat dunia memang demikian. Punya motor ingin mobil, punya mobil ingin yang lebih mahal, punya rumah ingin yang lebih besar, punya satu usaha ingin sepuluh usaha, semakin banyak memiliki sering kali semakin banyak merasa kurang.

Rasulullah bersabda:

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan menginginkan lembah yang ketiga. Tidak ada yang memenuhi mulutnya selain tanah (kubur). Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sahabat Al Akhbar … Dunia Itu Alat, Bukan Tujuan. Islam mengajarkan keseimbangan. Bekerjalah! Cari nafkah! bangun usaha! Miliki rumah! miliki kendaraan! siapkan masa depan anak! Semuanya boleh …Namun jadikan semuanya sebagai sarana menuju akhirat.

Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Carilah pada apa yang Allah karuniakan kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini bukan berarti Islam melarang mencari harta.  Justru Islam menganjurkan bekerja, berdagang, bertani, bahkan menjadi orang kaya jika diperoleh dengan cara yang halal. Yang dilarang adalah ketika hati bergantung kepada dunia hingga melupakan Allah.

Sahabat Al Akhbar … Cobalah bertanya kepada diri sendiri. Apakah shalat sering ditunda demi pekerjaan? Apakah hati gelisah ketika kehilangan uang, tetapi biasa saja ketika kehilangan shalat berjamaah? Apakah lebih semangat mengejar bonus daripada mengejar pahala? Apakah waktu untuk dunia berjam-jam, sedangkan membaca Al-Qur’an hanya beberapa menit? Apakah lebih takut miskin daripada takut berbuat dosa? Kalau jawabannya “iya”, berarti ada yang perlu diperbaiki. Bukan hartanya. Tetapi hatinya.

Rasulullah bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kaya itu bukan karena banyaknya harta, tetapi kaya adalah hati yang merasa cukup.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Betapa banyak orang bergaji kecil tetapi hidupnya tenang. Sebaliknya, tidak sedikit yang hartanya melimpah, tetapi tidurnya selalu gelisah. Mengapa? Karena ketenangan tidak dijual di bank namun ketenangan berasal dari iman. Jangan sampai dunia yang hanya sementara membuat kita kehilangan kehidupan yang abadi. Silakan menjadi orang kaya, karena b
anyak sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kaya. Namun jangan pernah biarkan dunia menjadi tuan, sementara kita menjadi hambanya.


082140888638 Yayasan Al Akhbar Ar Refahiyah

Komentar