Jemput Rejeki Secara Baik | Ustadzah Fatimah Alattas, S.E., M.E. | Majalah Al Akhbar September 2026 | 082140888638

082140888638 Yayasan Al Akhbar Ar Refahiyah Brilly El-Rasheed Manhaj Salaf Thaifah Manshurah Firqah Najiyah Ghuraba Sawad A'zham

Rezeki merupakan kebutuhan setiap manusia. Sejak membuka mata di pagi hari hingga kembali beristirahat pada malam hari, hampir seluruh aktivitas manusia bertujuan untuk memperoleh rezeki. Setiap manusia berjuang untuk dapat melangsungkan hidupnya dengan bekerja dan berharap memperoleh penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Islam mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan seseorang bukan hanya banyaknya rezeki yang diperoleh, melainkan bagaimana cara memperoleh rezeki tersebut dan bagaimana ia menggunakannya. 

Banyak orang mengira bahwa rezeki hanya berupa uang. Padahal, dalam Islam rezeki memiliki makna yang jauh lebih luas. Kesehatan, ilmu, keluarga yang harmonis, sahabat yang baik, kesempatan beribadah, umur yang bermanfaat, bahkan ketenangan hati merupakan bagian dari rezeki Allah. Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Firman Allah:

وَفِى السَّمَاۤءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوْعَدُوْنَ 

"Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu." (QS. Adz-Dzariyat: 22)

Manusia hanya diperintahkan untuk berusaha dengan sungguh-sungguh, sedangkan hasil akhirnya berada dalam ketentuan Allah. Kesadaran ini akan melahirkan sifat qana'ah, yaitu merasa cukup terhadap pemberian Allah tanpa kehilangan semangat untuk terus bekerja keras. Orang yang yakin bahwa Allah telah mengatur rezekinya tidak akan tergoda mengambil hak orang lain atau mencari nafkah melalui jalan yang dilarang agama. Di sisi lain kita dianjurkan untuk tidak “ngoyo” atau mati-matian mencari rezeki hingga melupakan kewajiban utama kita untuk beribadah kepada Allah. Misalnya, betapa banyak orang yang meninggalkan sholatnya hanya karena terbentur dengan jadwal rapat, atau menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Dia lupa rezeki dia ada di "tangan" Ar-Razzaq. 

Rasulullah bersabda: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah, dan gunakanlah cara yang indah dalam mencari rezeki. Karena tidak ada jiwa yang mati kecuali jatah rezekinya sudah terpenuhi, walaupun(terkadang) rezeki tersebut lambat sampai kepadanya. Maka gunakanlah cara yang indah untuk mencari rezeki. Ambillah yang halal-halal dan tinggalkan yang haram-haram.” (HR Ibnu Majah)

Lalu apa maksud cara yang indah dalam mencari rezeki? Kita dapat mengambil hikmah, bahwa menjemput rezeki itu secukupnya saja, tidak perlu cukup sekadar kita bisa hidup layak dan beribadah kepada Allah. Karena baik mati-matian atau sederhana dalam mencari rezeki, setiap orang memiliki jatah rezeki masing-masing. Sebagaimana ucapan Rasulullah “tidak ada jiwa yang mati kecuali sudah terpenuhi jatah rezekinya.”

Selain menjemput rezeki dengan penuh keyakinan pada kuasa Allah, sebagai muslim kita harus memperhatikan kehalalan rezeki yang kita dapatkan dan gunakan. Halal bukan hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga mencakup sumber penghasilan. Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik." (HR. Muslim)

Hadits ini memberikan pelajaran bahwa amal ibadah seseorang sangat dipengaruhi oleh kehalalan rezekinya. Makanan yang berasal dari penghasilan haram dapat menjadi penghalang diterimanya doa. Dalam hadits lain Rasulullah menceritakan seseorang yang telah melakukan perjalanan jauh, berdoa dengan penuh harap, tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan penghasilannya haram. Rasulullah kemudian bersabda, "Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?" (HR. Muslim).

Oleh karena itu, mencari pekerjaan yang halal merupakan bagian dari ibadah. Islam mengajarkan bahwa rezeki harus dijemput dengan ikhtiar yang maksimal. Ada beberapa cara yang diajarkan syariat untuk membuka pintu rezeki.

Pertama, bekerja keras dan profesional. Rasulullah sendiri adalah seorang pedagang yang terkenal jujur sebelum diangkat menjadi nabi. Beliau memberikan teladan bahwa bekerja merupakan bentuk kemuliaan, bukan sesuatu yang rendah.

Kedua, menjaga kejujuran dalam setiap transaksi. Kejujuran merupakan modal utama dalam memperoleh keberkahan usaha. Pedagang yang jujur akan memperoleh kepercayaan pelanggan sehingga usahanya berkembang secara berkelanjutan.

Ketiga, memperbanyak silaturahmi. Rasulullah bersabda: "Barang siapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Silaturahmi bukan sekadar mempererat hubungan keluarga, tetapi juga membuka peluang kerja sama, memperluas jaringan usaha, dan menghadirkan pertolongan Allah melalui sesama manusia.

Keempat, memperbanyak istighfar. Allah berfirman dalam QS. Nuh ayat 10–12 bahwa orang yang memperbanyak memohon ampun akan diberikan hujan, harta, anak-anak, kebun-kebun, dan sungai-sungai. Ayat ini menunjukkan hubungan erat antara istighfar dan keluasan rezeki.

Kelima, bertakwa kepada Allah. Firman Allah: "Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (QS. At-Talaq: 2–3) 

Nahdlatul Ulama Muhammadiyah Habib Habaib Hubabah Syarifah Sayyid Nahdlatul Wathan Wahabi Hizbut Tahrir Ikhwanul Muslimin Jama’ah Tabligh DDII LDII Wahdah IKADI Mujahidin MUI Salaf Ghuraba Thaifah Manshurah Firqah Najiyah

Komentar